Inilah 23 Manfaat Buah untuk Kesehatan, Kekebalan Tubuh Kuat - Jurnal Antasari

Sabtu, 31 Januari 2026 oleh maharani

Konsumsi pangan nabati yang kaya nutrisi merupakan pilar fundamental dalam menjaga fungsi fisiologis tubuh dan memitigasi risiko penyakit kronis.

Secara spesifik, kelompok makanan yang berasal dari tanaman, memiliki rasa manis alami, dan mengandung densitas mikronutrien tinggi, menawarkan spektrum keuntungan biologis yang luas.

Inilah 23 Manfaat Buah untuk Kesehatan, Kekebalan Tubuh Kuat - Jurnal Antasari

Komponen-komponen bioaktif di dalamnya, seperti vitamin, mineral, serat pangan, serta senyawa fitokimia termasuk polifenol dan karotenoid, bekerja secara sinergis untuk mendukung proses metabolik, melindungi sel dari kerusakan oksidatif, dan memelihara keseimbangan sistemik tubuh.

Inklusi rutin dari kelompok pangan ini dalam pola makan sehari-hari telah terbukti secara ilmiah berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas hidup dan umur harapan hidup yang lebih panjang. manfaat buah untuk kesehatan

  1. Sumber Vitamin dan Mineral Esensial

    Buah-buahan merupakan sumber utama berbagai mikronutrien yang krusial bagi fungsi tubuh, yang tidak dapat diproduksi sendiri secara memadai.

    Vitamin C, misalnya, yang melimpah pada jeruk, kiwi, dan stroberi, adalah kofaktor penting untuk sintesis kolagen, fungsi imun, dan penyerapan zat besi.

    Demikian pula, vitamin A (dalam bentuk beta-karoten) yang ditemukan pada mangga dan aprikot sangat vital untuk kesehatan penglihatan dan diferensiasi sel.

    Asupan yang cukup dari mikronutrien ini memastikan bahwa reaksi enzimatik dan proses seluler di seluruh tubuh dapat berjalan secara optimal.

    Selain vitamin, buah juga kaya akan mineral seperti kalium, yang berperan penting dalam regulasi tekanan darah dan fungsi otot, banyak terdapat pada pisang dan alpukat.

    Magnesium, yang ditemukan dalam buah ara dan pisang, terlibat dalam lebih dari 300 reaksi biokimia, termasuk produksi energi dan sintesis DNA.

    Ketersediaan hayati (bioavailability) mikronutrien dari buah cenderung tinggi, menjadikannya cara yang efisien untuk memenuhi kebutuhan gizi harian dan mencegah defisiensi yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

  2. Kaya akan Serat Pangan

    Serat pangan, yang terdiri dari serat larut dan tidak larut, melimpah dalam buah-buahan seperti apel, pir, dan beri. Serat tidak larut berfungsi menambah massa pada feses, sehingga memperlancar pergerakan usus dan mencegah konstipasi.

    Mekanisme ini sangat penting untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan dan mengurangi waktu transit limbah di dalam kolon. Dengan demikian, konsumsi buah secara teratur membantu memelihara keteraturan sistem pencernaan.

    Di sisi lain, serat larut, seperti pektin pada apel, membentuk substansi mirip gel di dalam saluran cerna.

    Gel ini dapat mengikat kolesterol dan memperlambat penyerapan gula, yang berkontribusi pada penurunan kadar kolesterol LDL (jahat) dan stabilisasi kadar glukosa darah.

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal seperti The American Journal of Clinical Nutrition secara konsisten menunjukkan hubungan antara asupan serat yang tinggi dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

  3. Mengandung Antioksidan Tinggi

    Buah-buahan, terutama yang berwarna cerah seperti buah beri, delima, dan ceri, kaya akan senyawa antioksidan. Antioksidan ini meliputi flavonoid, antosianin, dan polifenol, yang berfungsi untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh.

    Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan stres oksidatif, suatu kondisi yang merusak sel, protein, dan DNA, serta menjadi pemicu berbagai penyakit kronis termasuk kanker dan penyakit jantung.

    Stres oksidatif merupakan faktor fundamental dalam proses penuaan dan perkembangan penyakit degeneratif. Dengan mengonsumsi buah yang kaya antioksidan, tubuh mendapatkan perlindungan seluler yang signifikan.

    Studi dalam bidang biokimia nutrisi menunjukkan bahwa senyawa-senyawa ini tidak hanya bertindak sebagai pemulung radikal bebas tetapi juga dapat meningkatkan sistem pertahanan antioksidan endogen tubuh, memberikan efek protektif yang lebih komprehensif.

  4. Menurunkan Tekanan Darah

    Kandungan kalium yang tinggi dalam banyak jenis buah, seperti pisang, alpukat, dan jeruk, memainkan peran krusial dalam menyeimbangkan kadar natrium dalam tubuh.

    Regulasi natrium-kalium ini sangat penting untuk menjaga elastisitas pembuluh darah dan mengelola tekanan fluida dalam sistem sirkulasi.

    Dengan demikian, asupan kalium yang adekuat dari buah-buahan membantu merelaksasi dinding arteri, yang secara langsung berkontribusi pada penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Konsumsi rutin menjadi strategi diet non-farmakologis yang efektif untuk mengendalikan hipertensi.

    Penelitian epidemiologis, seperti yang sering dibahas dalam Journal of the American Heart Association, secara konsisten menunjukkan korelasi terbalik antara asupan buah dan risiko hipertensi.

    Mekanisme ini tidak hanya didukung oleh kalium, tetapi juga oleh senyawa bioaktif lain seperti flavonoid yang memiliki efek vasodilatasi.

    Buah beri dan delima, misalnya, kaya akan polifenol yang dapat meningkatkan produksi oksida nitrat, molekul yang membantu melebarkan pembuluh darah.

  5. Mengurangi Kadar Kolesterol

    Serat larut, khususnya pektin yang banyak ditemukan pada apel, jeruk, dan stroberi, secara efektif membantu menurunkan kadar kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL).

    Di dalam usus, serat larut akan mengikat asam empedu, yang merupakan produk turunan dari kolesterol, dan membawanya keluar dari tubuh.

    Akibatnya, hati harus mengambil lebih banyak kolesterol dari aliran darah untuk memproduksi asam empedu baru, yang pada akhirnya menurunkan kadar kolesterol LDL dalam sirkulasi.

    Selain serat, beberapa buah mengandung senyawa fitosterol yang strukturnya mirip dengan kolesterol. Fitosterol ini bersaing dengan kolesterol untuk penyerapan di usus, sehingga mengurangi jumlah kolesterol yang masuk ke aliran darah.

    Alpukat adalah contoh buah yang kaya akan fitosterol dan lemak tak jenuh tunggal, kombinasi yang sangat bermanfaat untuk profil lipid yang sehat, sebagaimana didokumentasikan dalam berbagai studi nutrisi klinis.

  6. Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Manfaat buah untuk kesehatan jantung bersifat multifaktorial, menggabungkan efek penurunan tekanan darah, pengurangan kolesterol, dan perlindungan antioksidan.

    Senyawa polifenol, seperti quercetin pada apel dan resveratrol pada anggur, membantu mengurangi peradangan dan mencegah oksidasi kolesterol LDL, suatu langkah awal dalam pembentukan plak aterosklerotik. Plak ini dapat menyumbat arteri dan menyebabkan penyakit jantung koroner.

    Studi kohort besar, seperti yang dipublikasikan di The Lancet, telah menunjukkan bahwa individu dengan asupan buah tertinggi memiliki risiko terendah terhadap kejadian kardiovaskular, termasuk serangan jantung.

    Kombinasi serat, kalium, vitamin, dan antioksidan dalam buah bekerja secara sinergis untuk menjaga kesehatan pembuluh darah, meningkatkan fungsi endotel, dan mengurangi beban kerja jantung secara keseluruhan, menjadikannya komponen vital dalam diet jantung sehat.

  7. Mencegah Risiko Stroke

    Risiko stroke, baik iskemik maupun hemoragik, sangat terkait dengan kondisi kesehatan vaskular seperti hipertensi dan aterosklerosis.

    Buah-buahan berkontribusi pada pencegahan stroke melalui beberapa mekanisme, terutama dengan menjaga tekanan darah pada level yang sehat dan mencegah pembentukan gumpalan darah.

    Kalium dan flavonoid dalam buah membantu menjaga kelenturan arteri dan aliran darah yang lancar ke otak.

    Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Stroke menyimpulkan bahwa setiap peningkatan porsi harian konsumsi buah secara signifikan mengurangi risiko stroke.

    Buah-buahan sitrus, yang kaya akan flavonoid seperti hesperidin, telah terbukti secara khusus dapat meningkatkan fungsi pembuluh darah dan mengurangi peradangan, faktor-faktor kunci dalam patofisiologi stroke.

    Oleh karena itu, konsumsi buah rutin adalah strategi preventif yang kuat.

  8. Membantu Mengelola Gula Darah

    Meskipun mengandung gula alami (fruktosa), sebagian besar buah memiliki indeks glikemik (IG) yang rendah hingga sedang. Hal ini disebabkan oleh kandungan seratnya yang tinggi, yang memperlambat proses pencernaan dan pelepasan gula ke dalam aliran darah.

    Akibatnya, konsumsi buah utuh tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam, berbeda dengan konsumsi gula rafinasi atau jus buah tanpa serat.

    Buah beri, ceri, dan apel adalah contoh buah dengan IG rendah yang aman dan bermanfaat bagi individu dengan resistensi insulin atau diabetes tipe 2.

    Senyawa polifenol dalam buah-buahan ini, seperti antosianin, juga telah terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa.

    Penelitian dalam Diabetologia menunjukkan bahwa asupan buah utuh secara teratur justru berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.

  9. Mendukung Manajemen Berat Badan

    Buah-buahan memiliki kepadatan energi yang rendah, artinya mereka menyediakan volume yang besar dengan jumlah kalori yang relatif sedikit. Hal ini disebabkan oleh kandungan air dan seratnya yang tinggi.

    Mengonsumsi buah sebagai bagian dari makanan atau sebagai camilan dapat meningkatkan rasa kenyang (satiety) dan mengurangi asupan kalori total, yang merupakan faktor kunci dalam penurunan dan pemeliharaan berat badan.

    Serat dalam buah tidak hanya memberikan rasa kenyang tetapi juga memperlambat pengosongan lambung, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama.

    Mengganti camilan padat kalori dan rendah nutrisi dengan buah segar adalah strategi efektif untuk menciptakan defisit kalori tanpa merasa lapar.

    Studi observasional secara konsisten mengaitkan konsumsi buah yang lebih tinggi dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih rendah dan risiko obesitas yang lebih kecil.

  10. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

    Sistem imun yang kuat bergantung pada asupan nutrisi yang adekuat, terutama vitamin C, vitamin A, dan antioksidan lainnya.

    Vitamin C, yang melimpah dalam buah sitrus, kiwi, dan paprika, sangat penting untuk produksi dan fungsi sel darah putih, seperti neutrofil dan limfosit, yang merupakan garda terdepan dalam melawan infeksi.

    Vitamin ini juga merupakan antioksidan kuat yang melindungi sel-sel imun dari kerusakan oksidatif.

    Selain vitamin C, fitokimia seperti karotenoid dan flavonoid juga memiliki sifat imunomodulator, yang berarti mereka dapat membantu mengatur respons imun. Mereka membantu mengurangi peradangan berlebih yang dapat merusak jaringan selama infeksi.

    Dengan menyediakan nutrisi penting ini, konsumsi buah secara teratur membantu memperkuat pertahanan tubuh terhadap patogen dan mempercepat pemulihan saat sakit.

  11. Mempromosikan Kesehatan Usus

    Serat dalam buah berfungsi sebagai prebiotik, yaitu makanan untuk bakteri baik (probiotik) yang hidup di usus besar.

    Mikrobiota usus yang sehat dan seimbang sangat penting untuk berbagai aspek kesehatan, mulai dari pencernaan, fungsi imun, hingga kesehatan mental. Dengan mengonsumsi serat dari buah, populasi bakteri menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dapat berkembang biak.

    Ketika bakteri ini memfermentasi serat, mereka menghasilkan senyawa bermanfaat yang disebut asam lemak rantai pendek (SCFA), seperti butirat.

    Butirat adalah sumber energi utama untuk sel-sel yang melapisi usus besar, membantu menjaga integritas dinding usus, dan memiliki sifat anti-inflamasi.

    Diet kaya buah-buahan secara langsung mendukung ekosistem mikrobioma yang beragam dan tangguh, yang merupakan fondasi kesehatan jangka panjang.

  12. Mengurangi Risiko Kanker

    Bukti epidemiologis yang kuat menunjukkan bahwa diet kaya buah dan sayuran berbanding terbalik dengan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru, mulut, dan usus besar.

    Perlindungan ini diatribusikan pada kombinasi antioksidan, serat, dan fitokimia lain yang bekerja sama untuk melindungi sel dari kerusakan DNA.

    Antioksidan menetralkan karsinogen potensial, sementara serat membantu mempercepat transit limbah melalui usus, mengurangi paparan terhadap zat berbahaya.

    Senyawa spesifik dalam buah, seperti ellagic acid pada buah beri dan delima, serta likopen pada tomat dan semangka, telah menunjukkan kemampuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dalam studi laboratorium.

    Senyawa-senyawa ini dapat menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker dan menghambat angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru yang memberi makan tumor). Meskipun bukan obat, konsumsi buah adalah strategi preventif yang berbasis bukti.

  13. Mendukung Kepadatan Tulang

    Kesehatan tulang tidak hanya bergantung pada kalsium, tetapi juga pada keseimbangan asam-basa tubuh dan asupan mineral lain seperti kalium dan magnesium. Buah-buahan, meskipun beberapa bersifat asam, memiliki efek alkalisasi pada tubuh setelah dimetabolisme.

    Diet yang kaya buah membantu menetralkan beban asam dari makanan lain, yang jika tidak, dapat menyebabkan pelepasan kalsium dari tulang untuk menyeimbangkan pH darah.

    Buah-buahan seperti plum kering (prunes) secara khusus telah diteliti karena potensinya dalam meningkatkan kepadatan mineral tulang. Prunes kaya akan vitamin K dan senyawa fenolik yang dapat merangsang aktivitas osteoblas, yaitu sel-sel pembentuk tulang.

    Konsumsi buah secara umum, dengan menyediakan kalium dan magnesium, membantu mengurangi ekskresi kalsium melalui urin, sehingga menjaga cadangan mineral penting ini untuk tulang.

  14. Meningkatkan Fungsi Otak

    Stres oksidatif dan peradangan kronis merupakan faktor utama dalam penurunan kognitif terkait usia dan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

    Antioksidan dan senyawa anti-inflamasi dalam buah, terutama flavonoid, dapat melintasi sawar darah-otak dan memberikan efek protektif langsung pada neuron. Flavonoid telah terbukti meningkatkan aliran darah ke otak dan merangsang neurogenesis, yaitu pembentukan sel-sel otak baru.

    Buah beri, yang sering disebut sebagai "brain food," adalah subjek utama dalam penelitian di bidang ini.

    Studi yang dipublikasikan dalam Annals of Neurology menunjukkan bahwa konsumsi buah beri secara teratur dapat menunda penuaan kognitif hingga 2,5 tahun.

    Antosianin, pigmen yang memberikan warna biru dan ungu pada blueberry, diyakini meningkatkan pensinyalan antar sel otak dan plastisitas sinaptik, yang mendasari proses belajar dan memori.

  15. Melindungi Kesehatan Mata

    Buah-buahan kaya akan nutrisi yang penting untuk kesehatan mata, termasuk vitamin C, vitamin E, dan karotenoid seperti lutein dan zeaxanthin.

    Lutein dan zeaxanthin adalah antioksidan yang terakumulasi di makula, bagian dari retina yang bertanggung jawab atas penglihatan sentral yang tajam.

    Mereka berfungsi sebagai filter cahaya biru alami, melindungi mata dari kerusakan akibat paparan sinar matahari dan perangkat digital.

    Asupan tinggi lutein dan zeaxanthin, yang banyak ditemukan pada buah-buahan berwarna kuning dan oranye seperti mangga dan pepaya, serta kiwi, dikaitkan dengan penurunan risiko degenerasi makula terkait usia (AMD) dan katarak.

    Vitamin C dan E juga membantu melindungi lensa dan retina dari kerusakan oksidatif, yang merupakan penyebab utama kedua kondisi tersebut. Dengan demikian, buah adalah komponen diet esensial untuk menjaga penglihatan jangka panjang.

  16. Menjaga Kesehatan Kulit

    Kulit yang sehat dan bercahaya sangat bergantung pada asupan nutrisi yang memadai. Vitamin C dalam buah-buahan seperti jeruk dan stroberi adalah prekursor penting untuk sintesis kolagen, protein struktural yang memberikan elastisitas dan kekencangan pada kulit.

    Asupan vitamin C yang cukup membantu melawan kerutan dan kulit kendur yang disebabkan oleh penuaan dan kerusakan akibat sinar matahari.

    Antioksidan seperti beta-karoten (dikonversi menjadi vitamin A) dan likopen juga melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi UV.

    Mereka membantu menetralkan radikal bebas yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari, mengurangi risiko terbakar matahari dan penuaan dini (photoaging).

    Dengan menyediakan hidrasi dan nutrisi pelindung, buah membantu menjaga kulit tetap sehat, terhidrasi, dan awet muda dari dalam.

  17. Menyediakan Hidrasi Alami

    Banyak buah memiliki kandungan air yang sangat tinggi, seringkali lebih dari 80% dari beratnya. Semangka, melon, stroberi, dan jeruk adalah contoh buah yang sangat menghidrasi.

    Mengonsumsi buah-buahan ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap asupan cairan harian, yang penting untuk semua fungsi tubuh, termasuk regulasi suhu, transportasi nutrisi, dan fungsi ginjal.

    Selain air, buah juga menyediakan elektrolit seperti kalium, yang hilang melalui keringat. Elektrolit sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kontraksi otot.

    Mengonsumsi buah setelah berolahraga atau saat cuaca panas adalah cara yang efektif dan alami untuk mengisi kembali cairan dan elektrolit yang hilang, lebih baik daripada minuman olahraga yang seringkali mengandung gula tambahan.

  18. Melawan Peradangan Kronis

    Peradangan kronis tingkat rendah adalah akar dari banyak penyakit modern, mulai dari penyakit jantung hingga artritis. Buah-buahan, terutama yang kaya polifenol dan antioksidan, memiliki sifat anti-inflamasi yang kuat.

    Senyawa seperti quercetin pada apel dan bromelain pada nanas dapat membantu menekan jalur peradangan dalam tubuh, seperti menghambat aktivitas enzim COX-2.

    Buah ceri, khususnya varietas tart, telah banyak diteliti karena kemampuannya mengurangi peradangan dan nyeri otot setelah olahraga. Antosianin dalam ceri terbukti dapat menurunkan penanda peradangan dalam darah, seperti C-reactive protein (CRP).

    Mengintegrasikan berbagai buah berwarna ke dalam diet adalah strategi efektif untuk mengelola dan mengurangi peradangan sistemik secara alami.

  19. Mendukung Fungsi Ginjal

    Ginjal bertanggung jawab untuk menyaring limbah dari darah dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit. Diet tinggi buah-buahan dapat mendukung fungsi ginjal dengan beberapa cara.

    Pertama, efek alkalisasi dari buah membantu mengurangi beban asam pada ginjal, yang dapat mencegah pembentukan beberapa jenis batu ginjal.

    Kedua, kandungan kalium yang tepat dari buah-buahan membantu ginjal dalam mengatur tekanan darah, yang merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.

    Selain itu, asupan cairan dari buah yang menghidrasi membantu memastikan volume urin yang cukup untuk membuang produk limbah secara efisien. Namun, individu dengan penyakit ginjal lanjut mungkin perlu membatasi buah-buahan tinggi kalium sesuai anjuran medis.

  20. Meningkatkan Suasana Hati (Mood)

    Terdapat hubungan yang semakin jelas antara diet dan kesehatan mental. Diet kaya buah-buahan dikaitkan dengan tingkat depresi yang lebih rendah.

    Hubungan ini mungkin dimediasi oleh beberapa faktor, termasuk efek anti-inflamasi dan antioksidan dari fitokimia buah, yang dapat melindungi otak dari stres oksidatif yang terkait dengan gangguan mood.

    Selain itu, buah-buahan adalah sumber karbohidrat kompleks dan vitamin B, seperti folat, yang penting untuk produksi neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, yang mengatur suasana hati.

    Mikrobiota usus yang sehat, yang didukung oleh serat buah, juga memainkan peran dalam komunikasi sumbu usus-otak (gut-brain axis), yang secara langsung memengaruhi kesehatan mental dan emosional.

  21. Memberikan Energi Alami

    Gula alami dalam buah, terutama fruktosa, glukosa, dan sukrosa, menyediakan sumber energi yang cepat dan mudah diakses oleh tubuh. Tidak seperti gula olahan, gula dalam buah dikemas bersama dengan serat, vitamin, dan mineral.

    Serat memperlambat pelepasan gula, memberikan pasokan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan tanpa menyebabkan lonjakan dan penurunan energi yang drastis.

    Buah-buahan seperti pisang sangat populer di kalangan atlet karena kombinasi karbohidrat yang mudah dicerna dan kalium, yang membantu mencegah kram otot. Mengonsumsi buah sebelum atau selama aktivitas fisik dapat meningkatkan kinerja dan daya tahan.

    Ini menjadikannya pilihan yang jauh lebih sehat daripada minuman energi atau makanan ringan olahan untuk meningkatkan tingkat energi.

  22. Mencegah Anemia Defisiensi Besi

    Anemia defisiensi besi adalah kondisi umum yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merah yang sehat.

    Meskipun buah-buahan bukan sumber utama zat besi (terutama zat besi heme yang mudah diserap), mereka memainkan peran pendukung yang sangat penting.

    Vitamin C, yang melimpah dalam buah-buahan sitrus, beri, dan kiwi, secara signifikan meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari sumber nabati lainnya.

    Mengonsumsi buah yang kaya vitamin C bersamaan dengan makanan kaya zat besi seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau sayuran hijau gelap dapat meningkatkan bioavailabilitas zat besi secara dramatis.

    Kombinasi ini sangat penting bagi individu yang mengikuti pola makan vegetarian atau vegan. Dengan cara ini, buah secara tidak langsung membantu mencegah dan mengatasi anemia.

  23. Mendukung Kehamilan yang Sehat

    Selama kehamilan, kebutuhan akan nutrisi tertentu meningkat secara signifikan untuk mendukung pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.

    Buah-buahan adalah sumber folat yang sangat baik, vitamin B yang krusial untuk mencegah cacat tabung saraf (neural tube defects) pada janin, seperti spina bifida. Buah-buahan seperti jeruk, alpukat, dan mangga kaya akan folat alami.

    Selain folat, serat dalam buah membantu mengatasi masalah umum selama kehamilan seperti konstipasi.

    Vitamin C mendukung pembentukan kolagen untuk perkembangan tulang, kulit, dan pembuluh darah bayi, serta membantu penyerapan zat besi untuk mencegah anemia pada ibu.

    Kandungan air dan elektrolit dalam buah juga membantu ibu hamil tetap terhidrasi dengan baik.