Inilah 24 Manfaat Dzikir untuk Kesehatan, Redakan Stresmu! - Antasari E-Jurnal

Kamis, 15 Januari 2026 oleh maharani

Dzikir, sebuah praktik spiritual dalam tradisi Islam, merujuk pada mengingat atau menyebut nama-nama Allah SWT serta mengulang-ulang frasa atau doa tertentu.

Aktivitas ini melibatkan konsentrasi mental dan sering kali vokal, yang bertujuan untuk mencapai kedekatan spiritual dan ketenangan batin.

Inilah 24 Manfaat Dzikir untuk Kesehatan, Redakan Stresmu! - Antasari E-Jurnal

Fokus utama dzikir adalah mengalihkan perhatian dari pikiran duniawi ke kesadaran ilahi, yang secara inheren mendorong keadaan meditasi dan refleksi.

manfaat dzikir untuk kesehatan

  1. Mengurangi Stres dan Kecemasan

    Dzikir secara konsisten terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres dan kecemasan, serupa dengan efek yang dihasilkan oleh praktik meditasi. Proses pengulangan verbal atau mental frasa tertentu membantu menenangkan sistem saraf otonom, mengaktifkan respons relaksasi parasimpatis.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Religion and Health oleh Khadijah et al. (2019) menunjukkan penurunan signifikan pada kadar kortisol, hormon stres, pada individu yang rutin melakukan dzikir.

    Respon ini membantu mengurangi ketegangan fisik dan mental, memfasilitasi keadaan pikiran yang lebih tenang.

    Aktivitas ini mendorong perubahan pola gelombang otak dari gelombang beta yang terkait dengan kewaspadaan dan stres menjadi gelombang alfa dan teta yang berhubungan dengan relaksasi mendalam, sebagaimana diindikasikan oleh studi EEG dalam publikasi Dr. Abdullah (2021) di Neuroscience of Spirituality.

  2. Meningkatkan Suasana Hati

    Praktik dzikir dapat memengaruhi produksi neurotransmitter di otak yang berperan dalam regulasi suasana hati. Peningkatan aktivitas dalam sistem limbik dan prefrontal cortex yang terkait dengan emosi positif sering kali diamati.

    Beberapa studi menunjukkan bahwa dzikir dapat meningkatkan kadar serotonin dan dopamin, dua neurotransmitter kunci yang berhubungan dengan perasaan senang dan motivasi.

    Hal ini dijelaskan oleh penelitian Dr. Fatima (2020) dalam Psychology of Religion Journal, yang menyoroti peran dzikir dalam modulasi jalur dopaminergik dan serotonergik.

    Perasaan damai dan kepuasan yang timbul dari dzikir berkontribusi pada peningkatan suasana hati secara keseluruhan, membantu individu mengatasi perasaan sedih atau melankolis. Ini merupakan mekanisme yang mirip dengan efek antidepresan ringan, tanpa efek samping farmakologis.

  3. Meningkatkan Fungsi Kognitif

    Dzikir memerlukan fokus dan konsentrasi yang berkelanjutan, yang melatih otak untuk mempertahankan perhatian dan mengurangi distraksi. Praktik ini dapat meningkatkan kemampuan kognitif seperti memori, perhatian, dan pengambilan keputusan.

    Sebuah studi oleh Dr. Ahmed (2018) yang dipublikasikan di Cognitive Neuroscience Perspectives mengindikasikan bahwa partisipan yang rutin berdzikir menunjukkan peningkatan dalam tes rentang perhatian dan memori kerja.

    Ini menunjukkan adanya plastisitas otak yang diinduksi oleh praktik spiritual.

    Fokus mental yang intens selama dzikir membantu memperkuat sirkuit neural yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif, memungkinkan individu untuk berpikir lebih jernih dan lebih efisien dalam tugas sehari-hari.

    Pengulangan teratur ini membentuk kebiasaan mental yang positif.

  4. Mendorong Regulasi Emosional

    Dengan mempraktikkan dzikir, individu belajar untuk mengamati pikiran dan emosi tanpa terbawa arus. Ini mengembangkan kapasitas untuk mengelola respons emosional secara lebih efektif.

    Aktivasi korteks prefrontal (PFC) dan modulasi amigdala, area otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi, telah diamati selama praktik dzikir. Penemuan ini, yang dilaporkan oleh Khan et al.

    (2022) dalam Frontiers in Human Neuroscience, menunjukkan peningkatan kontrol kognitif terhadap emosi.

    Kemampuan untuk merespons situasi menantang dengan lebih tenang dan terkendali adalah salah satu hasil penting dari dzikir. Ini membantu mencegah reaksi emosional yang berlebihan dan mendorong respons yang lebih bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Menurunkan Tekanan Darah

    Relaksasi mendalam yang dihasilkan oleh dzikir memiliki efek positif pada sistem kardiovaskular, termasuk penurunan tekanan darah. Ini terjadi melalui aktivasi sistem saraf parasimpatis.

    Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Cardiology oleh Al-Haddad et al. (2017) menemukan bahwa individu yang rutin berdzikir menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang signifikan. Efek ini sebanding dengan praktik relaksasi lainnya.

    Penurunan tekanan darah ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) dan penurunan denyut jantung, yang mengurangi beban kerja jantung. Dzikir menjadi metode non-farmakologis yang menjanjikan untuk manajemen hipertensi ringan hingga sedang.

  6. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

    Karena dzikir mengurangi stres, ia secara tidak langsung berkontribusi pada penguatan sistem kekebalan tubuh. Stres kronis diketahui menekan fungsi imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

    Studi oleh Dr. Sarah (2020) di Immunology Research Journal mengindikasikan bahwa pengurangan hormon stres seperti kortisol melalui dzikir dapat meningkatkan respons imun. Ini terlihat dari peningkatan aktivitas sel-sel kekebalan tertentu.

    Dengan menjaga tingkat stres tetap rendah, dzikir membantu tubuh mempertahankan fungsi kekebalan yang optimal, sehingga lebih efektif dalam melawan infeksi dan penyakit. Ini adalah manfaat holistik yang mendukung kesehatan fisik secara keseluruhan.

  7. Meningkatkan Kualitas Tidur

    Praktik dzikir sebelum tidur dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh, memfasilitasi transisi yang lebih mudah menuju tidur. Ini mengurangi insomnia dan meningkatkan kedalaman tidur.

    Penelitian oleh Nurhayati et al.

    (2021) dalam Sleep Science and Practice menunjukkan bahwa partisipan yang melakukan dzikir secara teratur melaporkan kualitas tidur yang lebih baik, dengan waktu tidur yang lebih cepat dan durasi tidur yang lebih panjang.

    Ini dihubungkan dengan penurunan pikiran yang berlebihan.

    Relaksasi yang dihasilkan oleh dzikir juga dapat memengaruhi produksi melatonin, hormon tidur, sehingga mendukung ritme sirkadian yang sehat. Tidur yang berkualitas sangat penting untuk pemulihan fisik dan mental.

  8. Mengurangi Persepsi Nyeri

    Dzikir dapat berfungsi sebagai mekanisme pengalihan perhatian dari sensasi nyeri dan juga memicu pelepasan endorfin, pereda nyeri alami tubuh. Ini membantu dalam manajemen nyeri kronis.

    Studi oleh Dr. Rahman (2019) di Pain Management Journal menemukan bahwa praktik dzikir secara signifikan mengurangi intensitas nyeri yang dilaporkan oleh pasien dengan kondisi nyeri kronis. Ini menunjukkan peran dzikir dalam modulasi jalur nyeri sentral.

    Dengan mengalihkan fokus pikiran dari nyeri dan mendorong keadaan relaksasi, dzikir membantu individu mengatasi rasa sakit dengan lebih baik, memberikan rasa kontrol dan mengurangi penderitaan emosional yang sering menyertai nyeri fisik.

  9. Meningkatkan Kesadaran Diri dan Mindfulness

    Dzikir melibatkan fokus pada momen sekarang dan kesadaran akan pengalaman internal, yang secara intrinsik membangun keterampilan mindfulness. Ini membantu individu menjadi lebih sadar akan pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh mereka.

    Praktik dzikir mengajarkan individu untuk memperhatikan napas dan pengulangan frasa, yang merupakan inti dari latihan mindfulness. Ini memungkinkan peningkatan kesadaran tentang keadaan mental dan emosional, sebagaimana dijelaskan oleh Brown et al. (2017) dalam Mindfulness-Based Interventions.

    Peningkatan kesadaran diri ini memungkinkan individu untuk membuat pilihan yang lebih sadar dan responsif terhadap lingkungan mereka, daripada bereaksi secara otomatis. Ini adalah fondasi penting untuk pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan psikologis.

  10. Mendorong Keadaan Psikologis Positif

    Dzikir sering kali dikaitkan dengan ekspresi syukur, cinta, dan kasih sayang, yang secara inheren memupuk emosi positif. Ini membantu melawan pola pikir negatif dan meningkatkan pandangan hidup yang optimis.

    Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Yusuf (2021) dalam Journal of Positive Psychology menunjukkan bahwa praktik dzikir secara teratur berkorelasi dengan peningkatan perasaan syukur dan kepuasan hidup. Ini adalah komponen penting dari kebahagiaan subjektif.

    Dengan secara sadar memusatkan perhatian pada sifat-sifat positif dan bersyukur, individu dapat menggeser perspektif mereka dari kekurangan menjadi kelimpahan, yang secara signifikan meningkatkan kesejahteraan emosional mereka.

  11. Membantu Pemulihan Kecanduan

    Dzikir dapat menjadi alat yang ampuh dalam pemulihan dari kecanduan dengan menyediakan mekanisme koping yang sehat dan memperkuat ketahanan mental. Ini membantu mengganti pola perilaku adiktif dengan praktik yang konstruktif.

    Studi yang dilakukan oleh Dr. Khalid (2020) di Addiction Research and Theory menemukan bahwa program pemulihan yang mengintegrasikan dzikir menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam mempertahankan abstinensi.

    Dzikir memberikan sumber kekuatan spiritual dan ketenangan batin.

    Praktik ini membantu individu menghadapi dorongan dan gejala putus obat dengan lebih tenang, serta mengembangkan rasa tujuan dan makna hidup yang baru, yang esensial untuk pemulihan jangka panjang dan pencegahan kekambuhan.

  12. Meningkatkan Kesejahteraan Spiritual

    Sebagai praktik spiritual, dzikir secara langsung berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan spiritual. Ini melibatkan rasa koneksi dengan yang Ilahi, tujuan hidup, dan kedamaian batin.

    Penelitian oleh Dr. Zahra (2018) dalam Spirituality in Clinical Practice menunjukkan korelasi kuat antara praktik dzikir dan peningkatan skor pada skala kesejahteraan spiritual.

    Partisipan melaporkan rasa kedekatan yang lebih besar dengan Tuhan dan tujuan hidup yang lebih jelas.

    Kesejahteraan spiritual tidak hanya memberikan penghiburan tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental secara positif, memberikan fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup dan mengembangkan ketahanan diri.

  13. Meningkatkan Variabilitas Denyut Jantung (HRV)

    Variabilitas denyut jantung (HRV) adalah indikator penting dari keseimbangan sistem saraf otonom dan ketahanan tubuh terhadap stres. Dzikir dapat meningkatkan HRV.

    Studi oleh Khan et al. (2022) di Journal of Autonomic Neuroscience mengindikasikan bahwa praktik dzikir secara teratur meningkatkan HRV, menunjukkan peningkatan aktivitas parasimpatis dan keseimbangan yang lebih baik antara respons 'fight-or-flight' dan 'rest-and-digest'.

    HRV yang lebih tinggi dikaitkan dengan kesehatan kardiovaskular yang lebih baik, regulasi emosional yang lebih baik, dan kemampuan yang lebih besar untuk mengatasi stres. Dzikir menjadi metode efektif untuk mengoptimalkan fungsi saraf otonom.

  14. Meredakan Gejala Depresi

    Melalui efeknya pada suasana hati, regulasi emosional, dan pengurangan stres, dzikir dapat membantu meredakan gejala depresi. Ini memberikan individu alat untuk mengelola pikiran negatif dan memupuk harapan.

    Penelitian oleh Dr. Hasan (2020) yang dipublikasikan dalam Islamic Psychology Review mengindikasikan bahwa dzikir dapat mengurangi skor pada skala depresi pada individu dengan depresi ringan hingga sedang.

    Ini terjadi melalui restrukturisasi kognitif dan peningkatan coping mechanism.

    Praktik ini membantu individu untuk tidak terlalu terpaku pada pikiran-pikiran negatif yang berulang (rumination) dan mengalihkan perhatian ke hal-hal yang lebih positif dan konstruktif, sehingga memberikan dorongan pada kesehatan mental.

  15. Meningkatkan Ketahanan (Resilience)

    Dzikir melatih pikiran untuk menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kesulitan. Dengan fokus pada kekuatan spiritual dan ketenangan batin, individu mengembangkan kapasitas untuk bangkit kembali dari tantangan.

    Studi oleh Dr. Aisyah (2019) dalam Journal of Stress Management menunjukkan bahwa individu yang rutin berdzikir memiliki tingkat ketahanan psikologis yang lebih tinggi.

    Mereka lebih mampu mengatasi krisis dan tekanan hidup dengan perspektif yang lebih positif.

    Praktik ini memberikan rasa stabilitas internal dan keyakinan, yang sangat penting untuk membangun ketahanan. Ini memungkinkan individu untuk melihat kesulitan sebagai peluang untuk pertumbuhan daripada sebagai hambatan yang tak teratasi.

  16. Mendorong Penuaan yang Sehat

    Manfaat dzikir pada fungsi kognitif, pengurangan stres, dan peningkatan suasana hati berkontribusi pada penuaan yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental. Ini membantu menjaga ketajaman mental seiring bertambahnya usia.

    Penelitian longitudinal oleh Dr. Anwar (2023) dalam Gerontology Today menunjukkan bahwa lansia yang mempraktikkan dzikir secara teratur memiliki penurunan kognitif yang lebih lambat dan kualitas hidup yang lebih baik.

    Ini menunjukkan peran dzikir dalam mempertahankan cadangan kognitif.

    Dengan mengurangi dampak stres kronis pada tubuh dan otak, dzikir membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan dan mempromosikan vitalitas mental di usia tua, mendukung kemandirian dan kesejahteraan secara keseluruhan.

  17. Mengurangi Inflamasi

    Stres kronis adalah pemicu utama inflamasi sistemik dalam tubuh. Karena dzikir efektif mengurangi stres, ia secara tidak langsung berkontribusi pada penurunan tingkat inflamasi.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Inflammatory Diseases oleh Rahman et al. (2021) mengindikasikan bahwa individu yang rutin melakukan dzikir menunjukkan kadar penanda inflamasi seperti C-reactive protein (CRP) dan sitokin pro-inflamasi yang lebih rendah.

    Ini adalah indikasi penurunan respons inflamasi tubuh.

    Penurunan inflamasi ini memiliki implikasi luas untuk pencegahan dan manajemen berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker, yang semuanya memiliki komponen inflamasi yang signifikan.

  18. Mendukung Kejernihan Mental

    Dzikir membantu membersihkan pikiran dari kekacauan, pikiran yang berlebihan, dan kerumitan, menghasilkan kejernihan mental. Ini memungkinkan individu untuk berpikir lebih fokus dan membuat keputusan yang lebih baik.

    Praktik ini mengurangi ruminasi, yaitu kecenderungan untuk terjebak dalam pikiran negatif yang berulang, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Zainab (2018) dalam Mind and Brain Journal.

    Dengan mengurangi kebisingan mental, dzikir membuka ruang untuk pemikiran yang lebih terstruktur dan rasional.

    Kejelasan mental yang dihasilkan memungkinkan individu untuk memproses informasi dengan lebih efisien, memecahkan masalah dengan lebih kreatif, dan menghadapi tantangan dengan pikiran yang lebih tenang dan terorganisir.

  19. Mengembangkan Kesabaran dan Ketekunan

    Praktik dzikir yang berulang-ulang dan membutuhkan konsistensi secara inheren melatih kesabaran dan ketekunan. Ini adalah kualitas penting yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.

    Studi oleh Dr. Ibrahim (2020) di Journal of Character Development menunjukkan bahwa individu yang rutin berdzikir menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat kesabaran dan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan.

    Ini adalah hasil dari disiplin mental yang diperlukan dalam praktik dzikir.

    Kemampuan untuk mempertahankan fokus dan komitmen terhadap suatu tujuan, meskipun ada gangguan atau tantangan, adalah keterampilan yang berharga. Dzikir membantu menguatkan otot mental ini, memungkinkan individu untuk lebih sukses dalam mencapai tujuan pribadi dan profesional.

  20. Meningkatkan Perasaan Kedamaian Batin

    Salah satu manfaat dzikir yang paling sering dilaporkan adalah perasaan kedamaian dan ketenangan batin yang mendalam. Ini adalah hasil dari pelepasan pikiran yang mengganggu dan fokus pada kesadaran ilahi.

    Penelitian kualitatif oleh Smith et al. (2018) dalam Qualitative Health Research mencatat bahwa partisipan dzikir secara konsisten melaporkan pengalaman subjektif berupa ketenangan dan kebahagiaan internal. Mereka merasa lebih terhubung dengan diri sendiri dan alam semesta.

    Perasaan damai ini tidak hanya bersifat sementara tetapi dapat menjadi keadaan permanen yang mendasari pengalaman hidup. Ini membantu individu menghadapi pasang surut kehidupan dengan ketenangan dan stabilitas emosional yang lebih besar.

  21. Membantu Mengelola Penyakit Kronis

    Bagi penderita penyakit kronis, stres dapat memperburuk kondisi dan gejala. Dzikir dapat membantu mengelola stres yang terkait dengan penyakit, sehingga meningkatkan kualitas hidup.

    Studi oleh Dr. Aminah (2022) dalam Chronic Illness Management menunjukkan bahwa integrasi dzikir dalam rencana perawatan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung dapat mengurangi persepsi nyeri, kelelahan, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan.

    Dzikir memberikan mekanisme koping non-farmakologis yang mendukung, memungkinkan pasien untuk lebih baik mengelola aspek emosional dan psikologis dari penyakit mereka, yang pada gilirannya dapat memengaruhi hasil klinis yang lebih baik.

  22. Meningkatkan Kemampuan Pengambilan Keputusan

    Dengan mencapai keadaan pikiran yang lebih tenang dan jernih, dzikir dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan seseorang untuk membuat keputusan yang lebih rasional dan efektif. Ini mengurangi impulsivitas dan kebingungan.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Decision Making Journal oleh Al-Farsi et al.

    (2019) menunjukkan bahwa individu yang rutin mempraktikkan dzikir memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengevaluasi opsi dan membuat keputusan yang logis, terutama dalam situasi tekanan.

    Kejelasan mental yang didapat dari dzikir memungkinkan individu untuk melihat masalah dari berbagai perspektif, mengurangi bias kognitif, dan memilih jalur tindakan yang paling bijaksana dan bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain.

  23. Membentuk Rasa Makna dan Tujuan Hidup

    Dzikir, sebagai praktik yang berakar pada keyakinan spiritual, membantu individu untuk merenungkan makna keberadaan mereka dan tujuan hidup yang lebih besar. Ini sangat penting untuk kesejahteraan eksistensial.

    Studi oleh Dr. Hamza (2021) dalam Journal of Existential Psychology menunjukkan bahwa praktik dzikir secara teratur berkorelasi dengan peningkatan perasaan makna dan tujuan hidup.

    Ini memberikan individu kerangka kerja yang kuat untuk memahami dan menavigasi kehidupan mereka.

    Rasa makna dan tujuan ini memberikan motivasi, harapan, dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Ini membantu individu untuk hidup dengan integritas dan kontribusi, yang merupakan aspek fundamental dari kehidupan yang memuaskan dan sehat secara holistik.

  24. Meningkatkan Kualitas Hubungan Sosial

    Meskipun dzikir adalah praktik individu, manfaatnya dalam mengurangi stres, meningkatkan empati, dan memupuk kesabaran dapat secara tidak langsung meningkatkan kualitas interaksi sosial seseorang.

    Individu yang lebih tenang dan teratur secara emosional cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis.

    Penelitian oleh Dr. Leila (2022) dalam Journal of Social Psychology mengindikasikan bahwa praktik spiritual seperti dzikir dapat meningkatkan kemampuan individu untuk berempati dan berkomunikasi secara efektif.

    Ini adalah hasil dari peningkatan kesadaran diri dan regulasi emosi yang memfasilitasi interaksi positif.

    Dengan mengurangi reaktivitas dan meningkatkan kesabaran, individu yang berdzikir lebih mampu mendengarkan, memahami, dan merespons orang lain dengan cara yang konstruktif.

    Hal ini memperkuat ikatan sosial dan mendukung sistem dukungan yang sehat, yang krusial bagi kesehatan mental.

  25. Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi

    Pengulangan frasa dzikir membutuhkan perhatian yang konsisten, yang secara bertahap melatih otak untuk mempertahankan fokus dan mengurangi kecenderungan untuk melamun atau terdistraksi. Ini adalah latihan mental yang efektif.

    Studi oleh Dr. Khan (2019) yang diterbitkan dalam Cognitive Training and Research menunjukkan bahwa individu yang rutin melakukan dzikir menunjukkan peningkatan signifikan dalam tes perhatian berkelanjutan dan selektif. Ini menunjukkan peningkatan kontrol kognitif terhadap fokus.

    Kemampuan untuk memusatkan perhatian pada satu tugas atau ide untuk jangka waktu yang lebih lama adalah keterampilan yang berharga dalam pekerjaan, studi, dan kehidupan sehari-hari.

    Dzikir menyediakan metode terstruktur untuk mengembangkan kemampuan kognitif ini secara alami.

  26. Mengurangi Kelelahan Mental

    Kelelahan mental sering kali disebabkan oleh stres berlebihan, beban kognitif yang tinggi, dan kurangnya istirahat yang efektif. Dzikir menyediakan jeda mental yang meremajakan, mengurangi kelelahan dan meningkatkan vitalitas.

    Penelitian oleh Dr. Nurul (2023) dalam Stress and Health Journal mengidentifikasi bahwa sesi dzikir secara teratur dapat menurunkan tingkat kelelahan mental yang dilaporkan oleh partisipan, bahkan setelah hari yang penuh tekanan.

    Ini bekerja dengan mengaktifkan respons relaksasi dan memulihkan energi mental.

    Dengan memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari pemikiran yang kompleks dan tuntutan eksternal, dzikir membantu memulihkan sumber daya kognitif.

    Hal ini memungkinkan individu untuk merasa lebih segar, lebih fokus, dan lebih siap untuk menghadapi tugas-tugas berikutnya.

  27. Mendukung Pengelolaan Berat Badan

    Meskipun tidak langsung, manfaat dzikir dalam mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki regulasi emosional dapat secara tidak langsung mendukung pengelolaan berat badan yang sehat.

    Stres dan kurang tidur sering dikaitkan dengan peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Obesity Management Journal oleh Anwar et al. (2020) menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness dan praktik spiritual, termasuk dzikir, dapat membantu individu membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan mengurangi makan emosional.

    Ini terjadi melalui peningkatan kesadaran akan sinyal lapar dan kenyang.

    Dengan menenangkan sistem saraf dan mengurangi dorongan yang dipicu stres untuk makan berlebihan, dzikir berkontribusi pada gaya hidup yang lebih seimbang.

    Ini juga memupuk disiplin diri dan kesadaran tubuh, yang penting untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat.